NKB
Ke Yerusalam, Yesus, DatangMu
Draw Nigh to Thy Jerusalem, O Lord
Informasi Lagu
75
Nomor
Kode
NKB 75
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Walter Greatorex
Pencipta Syair
J. Taylor
Penerjemah
B. Maruta / Tim Nyanyian GKI
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Ke Yerusalem, Yesus, datangMu
disambut sorak-sorai umatMu:
“Mubaraklah! Hosana Anak Daud!”
Kepada Dikau kami pun berpaut.
T’lah siaplah baik lorong dan lebuh
menyongsong dengan rindu datangMu,
serta tekun tanpa berkeluh,
menanti penggenapan janjiMu.
Hosana! Kami sambut datangMu,
terbuka hati kami bagiMu.
Masuklah, Tuhan, tinggallah tetap
sekarang dan selama-lamanya.
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Ke Yerusalem, Yesus, Datang-Mu"** (atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai *"Draw Nigh to Thy Jerusalem, O Lord"*) adalah sebuah himne yang sangat klasik, khususnya dalam tradisi liturgi Kristen yang merayakan **Minggu Palem** (*Palm Sunday*).
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat dua sisi: sisi lirik (puisi) dan sisi komposisi musiknya.
### 1. Asal-usul Lirik: Jeremy Taylor (1613–1667)
Lirik asli lagu ini ditulis oleh **Jeremy Taylor**, seorang uskup, penulis, dan teolog terkemuka dari Gereja Inggris pada abad ke-17. Taylor dikenal sebagai salah satu penulis prosa paling fasih dalam bahasa Inggris pada masanya.
* **Konteks Penulisan:** Lirik ini diambil dari karya besarnya yang berjudul *“Festival Hymns”* (1655). Jeremy Taylor menulis puisi ini sebagai bentuk perenungan spiritual atas peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem dengan menunggang keledai, sebagaimana dicatat dalam Injil (Matius 21).
* **Tema:** Puisi Taylor bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah doa pribadi. Ia mengajak umat untuk tidak hanya melihat Yesus sebagai tokoh sejarah yang masuk ke Yerusalem, tetapi mengundang Yesus untuk "masuk" ke dalam hati manusia. Dalam liriknya, Yerusalem disimbolkan sebagai hati manusia yang perlu dibersihkan dan dipersiapkan bagi kedatangan Tuhan.
### 2. Komposisi Musik: Walter Greatorex (1877–1949)
Meskipun liriknya sudah berusia ratusan tahun, melodi yang kita kenal sekarang dan paling sering dinyanyikan di gereja-gereja digubah oleh **Walter Greatorex**.
* **Siapakah Walter Greatorex?** Ia adalah seorang musisi dan guru musik Inggris yang lama mengabdi di *Gresham's School*. Ia dikenal sebagai komponis yang sangat ahli dalam menciptakan melodi himne yang "berwibawa" namun memiliki kedalaman emosional.
* **Konteks Musik:** Greatorex menggubah melodi ini untuk menonjolkan nuansa khusyuk dan agung dari peristiwa Minggu Palem. Musiknya dirancang agar dinyanyikan oleh paduan suara (koor) dengan harmoni yang kuat, memberikan kesan kemegahan sekaligus kerendahan hati. Melodi ini sering dianggap sebagai salah satu contoh terbaik dari tradisi musik gerejawi Inggris awal abad ke-20.
### 3. Makna Teologis di Balik Lagu
Kisah di balik lagu ini adalah tentang **kontras antara kemeriahan dan pengabdian**.
* **Minggu Palem:** Secara historis, lagu ini dinyanyikan untuk mengenang saat Yesus disambut dengan sorak-sorai "Hosana" oleh rakyat Yerusalem.
* **Refleksi Diri:** Fokus utama lagu ini—sesuai dengan bait-bait yang ditulis Taylor—adalah kerendahan hati. Jika Yesus masuk ke Yerusalem dengan keledai (lambang kerendahan hati), maka lagu ini menjadi sarana bagi jemaat untuk merendahkan diri dan memohon agar Kristus bertahta di hati mereka.
### 4. Mengapa Lagu ini Penting?
Lagu ini bertahan melintasi zaman karena beberapa alasan:
1. **Keseimbangan:** Gabungan antara bahasa arkais (kuno) yang indah dari Jeremy Taylor dan melodi yang megah dari Greatorex menciptakan suasana ibadah yang sangat mendalam.
2. **Transisi Musim:** Lagu ini menjadi penanda penting dalam kalender gerejawi, yakni masa transisi dari masa Pra-Paskah menuju Minggu Sengsara (Pekan Suci).
3. **Universalitas:** Lagu ini tidak hanya bercerita tentang kota Yerusalem di masa lalu, melainkan tentang perjalanan iman setiap individu yang mengundang Yesus masuk ke dalam kehidupan mereka.
**Kesimpulan:**
Kisah di balik *"Ke Yerusalem, Yesus, Datang-Mu"* adalah kisah tentang penyatuan antara teologi abad ke-17 yang puitis dengan komposisi musik abad ke-20 yang agung. Ia adalah undangan bagi setiap orang percaya untuk membuka pintu hati mereka bagi Yesus, persis seperti orang-orang di Yerusalem yang menyambut-Nya di masa lalu, namun dengan sikap batin yang jauh lebih dalam dan bersifat pribadi.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat dua sisi: sisi lirik (puisi) dan sisi komposisi musiknya.
### 1. Asal-usul Lirik: Jeremy Taylor (1613–1667)
Lirik asli lagu ini ditulis oleh **Jeremy Taylor**, seorang uskup, penulis, dan teolog terkemuka dari Gereja Inggris pada abad ke-17. Taylor dikenal sebagai salah satu penulis prosa paling fasih dalam bahasa Inggris pada masanya.
* **Konteks Penulisan:** Lirik ini diambil dari karya besarnya yang berjudul *“Festival Hymns”* (1655). Jeremy Taylor menulis puisi ini sebagai bentuk perenungan spiritual atas peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem dengan menunggang keledai, sebagaimana dicatat dalam Injil (Matius 21).
* **Tema:** Puisi Taylor bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah doa pribadi. Ia mengajak umat untuk tidak hanya melihat Yesus sebagai tokoh sejarah yang masuk ke Yerusalem, tetapi mengundang Yesus untuk "masuk" ke dalam hati manusia. Dalam liriknya, Yerusalem disimbolkan sebagai hati manusia yang perlu dibersihkan dan dipersiapkan bagi kedatangan Tuhan.
### 2. Komposisi Musik: Walter Greatorex (1877–1949)
Meskipun liriknya sudah berusia ratusan tahun, melodi yang kita kenal sekarang dan paling sering dinyanyikan di gereja-gereja digubah oleh **Walter Greatorex**.
* **Siapakah Walter Greatorex?** Ia adalah seorang musisi dan guru musik Inggris yang lama mengabdi di *Gresham's School*. Ia dikenal sebagai komponis yang sangat ahli dalam menciptakan melodi himne yang "berwibawa" namun memiliki kedalaman emosional.
* **Konteks Musik:** Greatorex menggubah melodi ini untuk menonjolkan nuansa khusyuk dan agung dari peristiwa Minggu Palem. Musiknya dirancang agar dinyanyikan oleh paduan suara (koor) dengan harmoni yang kuat, memberikan kesan kemegahan sekaligus kerendahan hati. Melodi ini sering dianggap sebagai salah satu contoh terbaik dari tradisi musik gerejawi Inggris awal abad ke-20.
### 3. Makna Teologis di Balik Lagu
Kisah di balik lagu ini adalah tentang **kontras antara kemeriahan dan pengabdian**.
* **Minggu Palem:** Secara historis, lagu ini dinyanyikan untuk mengenang saat Yesus disambut dengan sorak-sorai "Hosana" oleh rakyat Yerusalem.
* **Refleksi Diri:** Fokus utama lagu ini—sesuai dengan bait-bait yang ditulis Taylor—adalah kerendahan hati. Jika Yesus masuk ke Yerusalem dengan keledai (lambang kerendahan hati), maka lagu ini menjadi sarana bagi jemaat untuk merendahkan diri dan memohon agar Kristus bertahta di hati mereka.
### 4. Mengapa Lagu ini Penting?
Lagu ini bertahan melintasi zaman karena beberapa alasan:
1. **Keseimbangan:** Gabungan antara bahasa arkais (kuno) yang indah dari Jeremy Taylor dan melodi yang megah dari Greatorex menciptakan suasana ibadah yang sangat mendalam.
2. **Transisi Musim:** Lagu ini menjadi penanda penting dalam kalender gerejawi, yakni masa transisi dari masa Pra-Paskah menuju Minggu Sengsara (Pekan Suci).
3. **Universalitas:** Lagu ini tidak hanya bercerita tentang kota Yerusalem di masa lalu, melainkan tentang perjalanan iman setiap individu yang mengundang Yesus masuk ke dalam kehidupan mereka.
**Kesimpulan:**
Kisah di balik *"Ke Yerusalem, Yesus, Datang-Mu"* adalah kisah tentang penyatuan antara teologi abad ke-17 yang puitis dengan komposisi musik abad ke-20 yang agung. Ia adalah undangan bagi setiap orang percaya untuk membuka pintu hati mereka bagi Yesus, persis seperti orang-orang di Yerusalem yang menyambut-Nya di masa lalu, namun dengan sikap batin yang jauh lebih dalam dan bersifat pribadi.