NKB
Hosana
Hosanna
Informasi Lagu
74
Nomor
Kode
NKB 74
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Johannes de Heer
Pencipta Syair
Zangbundel
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Hosana, Hosana, Hosana!
Hosana pujilah terus, nyanyikanlah syukur,
kepada Yesus, Penebus, dendangkanlah mazmur!
Hosana berkumandanglah, dengarkan suaranya!
Hai putra-putri, nyanyilah bersama malakNya!
Hai putra-putri, nyanyilah, suaramu angkatlah!
Hai putra-putri, nyanyilah bersama malakNya!
Hosana, Hosana, Hosana!
Hosana! Lihat Rajamu berjalan dengan gah
Khalayak ramai berseru: “Ikutlah menyembah!”
Hosana, Hosana, Hosana!
Hosana! Angkatlah terus pujian tak henti,
Naikkan lagu yang kudus, menyambut Al-Masih.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Penting untuk diklarifikasi terlebih dahulu bahwa lagu **"Hosana"** yang sering kita dengar di gereja-gereja Indonesia (yang biasanya tercantum dalam buku *Pelengkap Kidung Jemaat* atau buku nyanyian gerejawi lainnya dengan referensi ke *Zangbundel Johannes de Heer*) memiliki sejarah yang menarik namun sering disalahpahami.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Mengenal Johannes de Heer
Johannes de Heer (1866–1961) bukanlah seorang komposer musik klasik, melainkan seorang penginjil, penyunting lagu, dan musisi asal Belanda yang sangat berpengaruh dalam gerakan *Pinksterbeweging* (Gerakan Pentakosta) di Belanda.
*Zangbundel Johannes de Heer* adalah kumpulan nyanyian rohani yang ia susun dan terbitkan. Buku ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja evangelis dan Pentakosta di Belanda serta di lingkungan misi Belanda di Indonesia (Hindia Belanda) pada masanya. Jadi, banyak lagu di dalam buku tersebut bukan ditulis oleh De Heer sendiri, melainkan dikumpulkan, diterjemahkan, dan dipopulerkan olehnya.
### 2. Asal-Usul Lagu "Hosana"
Lagu "Hosana" yang Anda maksud (yang liriknya sering dimulai dengan *"Hosana, Hosana, Hosana di tempat yang mahatinggi..."*) sebenarnya berakar dari tradisi **"Chorus" atau lagu-lagu pujian singkat (chorus songs)** yang populer di Amerika Serikat pada awal abad ke-20.
* **Konteks Alkitabiah:** Lirik lagu ini diambil langsung dari peristiwa **Masuknya Yesus ke Yerusalem** (Matius 21:9). Istilah "Hosana" berasal dari bahasa Ibrani *Hoshana* yang secara harfiah berarti "Selamatkanlah kami sekarang" atau "Tolonglah kami". Dalam perkembangannya, kata ini berubah menjadi seruan pujian atau sorak-sorai kepada Mesias.
* **Pengaruh Musik:** Banyak lagu dalam *Zangbundel Johannes de Heer* mengadaptasi melodi dari lagu-lagu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dari Amerika Serikat (*Gospel Songs*). Lagu "Hosana" yang masuk dalam kumpulan De Heer sering kali dikaitkan dengan tradisi musik gereja yang menekankan sukacita yang meluap-luap dalam ibadah.
### 3. Mengapa Lagu ini Sangat Terkenal di Indonesia?
Penyebaran lagu "Hosana" ini di Indonesia terjadi melalui jalur misi zending Belanda.
* Para penginjil yang dididik dengan *Zangbundel* membawa buku nyanyian tersebut ke gereja-gereja di Indonesia.
* Liriknya yang pendek, ritmenya yang gembira, dan pesan teologisnya yang sederhana (pengakuan Yesus sebagai Raja yang datang dalam nama Tuhan) membuatnya sangat mudah diajarkan kepada jemaat di daerah-daerah saat itu.
* Banyak gereja di Indonesia kemudian mengadopsi lagu ini ke dalam buku nyanyian lokal, dan karena pengaruh *Zangbundel* sangat kuat di masa itu, orang sering menyebutnya sebagai "Lagu Johannes de Heer".
### 4. Makna di Balik Lagu
Secara teologis, lagu ini berfungsi sebagai **proklamasi iman**. Ketika jemaat menyanyikan "Hosana", mereka tidak hanya sekadar mengenang peristiwa 2.000 tahun lalu di Yerusalem, melainkan:
1. **Mengakui Kedaulatan Kristus:** Mengakui bahwa Yesus adalah Raja yang datang untuk menyelamatkan.
2. **Antisipasi:** Mengingatkan pada kedatangan Kristus kembali.
3. **Sukacita Ibadah:** Sebagai respons spontan umat atas kasih karunia Tuhan.
### Kesimpulan
Jika Anda mencari siapa pencipta melodi asli "Hosana" yang ada di *Zangbundel*, seringkali sulit untuk melacak satu nama karena lagu-lagu tersebut berkembang dari tradisi **lagu rakyat atau lagu gereja yang anonim** yang kemudian dibukukan oleh Johannes de Heer.
Johannes de Heer berperan besar sebagai **"kurator"**. Tanpa kerja kerasnya menyusun lagu-lagu tersebut dalam *Zangbundel*, kekayaan puji-pujian yang kita kenal di gereja hari ini mungkin tidak akan sampai ke Indonesia dengan cara yang sama. Lagu "Hosana" adalah bukti bagaimana satu seruan yang lahir di Yerusalem ribuan tahun lalu, melewati tradisi musik Amerika, dipopulerkan oleh seorang penginjil Belanda, dan akhirnya menjadi bagian integral dari ibadah umat Kristen di Indonesia.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Mengenal Johannes de Heer
Johannes de Heer (1866–1961) bukanlah seorang komposer musik klasik, melainkan seorang penginjil, penyunting lagu, dan musisi asal Belanda yang sangat berpengaruh dalam gerakan *Pinksterbeweging* (Gerakan Pentakosta) di Belanda.
*Zangbundel Johannes de Heer* adalah kumpulan nyanyian rohani yang ia susun dan terbitkan. Buku ini menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja evangelis dan Pentakosta di Belanda serta di lingkungan misi Belanda di Indonesia (Hindia Belanda) pada masanya. Jadi, banyak lagu di dalam buku tersebut bukan ditulis oleh De Heer sendiri, melainkan dikumpulkan, diterjemahkan, dan dipopulerkan olehnya.
### 2. Asal-Usul Lagu "Hosana"
Lagu "Hosana" yang Anda maksud (yang liriknya sering dimulai dengan *"Hosana, Hosana, Hosana di tempat yang mahatinggi..."*) sebenarnya berakar dari tradisi **"Chorus" atau lagu-lagu pujian singkat (chorus songs)** yang populer di Amerika Serikat pada awal abad ke-20.
* **Konteks Alkitabiah:** Lirik lagu ini diambil langsung dari peristiwa **Masuknya Yesus ke Yerusalem** (Matius 21:9). Istilah "Hosana" berasal dari bahasa Ibrani *Hoshana* yang secara harfiah berarti "Selamatkanlah kami sekarang" atau "Tolonglah kami". Dalam perkembangannya, kata ini berubah menjadi seruan pujian atau sorak-sorai kepada Mesias.
* **Pengaruh Musik:** Banyak lagu dalam *Zangbundel Johannes de Heer* mengadaptasi melodi dari lagu-lagu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dari Amerika Serikat (*Gospel Songs*). Lagu "Hosana" yang masuk dalam kumpulan De Heer sering kali dikaitkan dengan tradisi musik gereja yang menekankan sukacita yang meluap-luap dalam ibadah.
### 3. Mengapa Lagu ini Sangat Terkenal di Indonesia?
Penyebaran lagu "Hosana" ini di Indonesia terjadi melalui jalur misi zending Belanda.
* Para penginjil yang dididik dengan *Zangbundel* membawa buku nyanyian tersebut ke gereja-gereja di Indonesia.
* Liriknya yang pendek, ritmenya yang gembira, dan pesan teologisnya yang sederhana (pengakuan Yesus sebagai Raja yang datang dalam nama Tuhan) membuatnya sangat mudah diajarkan kepada jemaat di daerah-daerah saat itu.
* Banyak gereja di Indonesia kemudian mengadopsi lagu ini ke dalam buku nyanyian lokal, dan karena pengaruh *Zangbundel* sangat kuat di masa itu, orang sering menyebutnya sebagai "Lagu Johannes de Heer".
### 4. Makna di Balik Lagu
Secara teologis, lagu ini berfungsi sebagai **proklamasi iman**. Ketika jemaat menyanyikan "Hosana", mereka tidak hanya sekadar mengenang peristiwa 2.000 tahun lalu di Yerusalem, melainkan:
1. **Mengakui Kedaulatan Kristus:** Mengakui bahwa Yesus adalah Raja yang datang untuk menyelamatkan.
2. **Antisipasi:** Mengingatkan pada kedatangan Kristus kembali.
3. **Sukacita Ibadah:** Sebagai respons spontan umat atas kasih karunia Tuhan.
### Kesimpulan
Jika Anda mencari siapa pencipta melodi asli "Hosana" yang ada di *Zangbundel*, seringkali sulit untuk melacak satu nama karena lagu-lagu tersebut berkembang dari tradisi **lagu rakyat atau lagu gereja yang anonim** yang kemudian dibukukan oleh Johannes de Heer.
Johannes de Heer berperan besar sebagai **"kurator"**. Tanpa kerja kerasnya menyusun lagu-lagu tersebut dalam *Zangbundel*, kekayaan puji-pujian yang kita kenal di gereja hari ini mungkin tidak akan sampai ke Indonesia dengan cara yang sama. Lagu "Hosana" adalah bukti bagaimana satu seruan yang lahir di Yerusalem ribuan tahun lalu, melewati tradisi musik Amerika, dipopulerkan oleh seorang penginjil Belanda, dan akhirnya menjadi bagian integral dari ibadah umat Kristen di Indonesia.