Informasi Lagu
86
Nomor
Kode
NKB 86
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Nelly Poortier
Pencipta Syair
Jo Kalmijn-Spierenburg
Penerjemah
B. Maruta
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Waktu hari masih g’lap, alam masih sunyi, ada burung bangunlah dan seg’ra bernyanyi.
Lihat, ada t’rang cerlang bagai matahari. Laskar yang melihatnya takut, lalu lari.
Seorang malak turunlah lalu menggulingkan batu bundar dan besar, batu kubur Tuhan.
Dan keluar Penebus dari kubur itu, Ia masuk t’rang fajar dan hari baru.
Burung-burung di kebun nyanyi bergembira: “Sungguh Yesus hiduplah, Amin, Haleluya!”
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 86
Sejarah Lagu
Lagu **"Waktu Hari Masih G'lap"** (judul asli Belanda: ***'s Morgens in de stille hof***) adalah salah satu lagu rohani yang sangat ikonik, khususnya di kalangan komunitas Kristen di Indonesia, Belanda, dan komunitas diaspora lainnya.

Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat siapa penciptanya dan konteks emosional yang melahirkannya.

### 1. Pencipta: Nelly Poortier dan Jo Kalmijn-Spierenburg
Lagu ini ditulis oleh **Nelly Poortier** (lirik) dan musiknya digubah oleh **Jo Kalmijn-Spierenburg**. Mereka adalah dua sosok yang aktif dalam penulisan lagu rohani di Belanda pada pertengahan abad ke-20.

* **Nelly Poortier** adalah seorang penulis yang dikenal karena karya-karyanya yang memiliki kedalaman reflektif.
* **Jo Kalmijn-Spierenburg** adalah seorang komposer yang musiknya banyak digunakan di lingkungan gereja-gereja Reformed dan komunitas Kristen di Belanda.

### 2. Latar Belakang dan Makna Lagu
Kisah di balik lagu ini bukanlah sebuah drama besar, melainkan sebuah **perenungan teologis yang intim**. Judul aslinya, *'s Morgens in de stille hof* (Di pagi hari di taman yang sunyi), merujuk pada kisah kebangkitan Yesus Kristus di pagi hari saat Maria Magdalena datang ke kubur-Nya.

Namun, lagu ini tidak sekadar menceritakan kisah sejarah. Maknanya jauh lebih luas:

* **Tema Utama:** Kedekatan pribadi dengan Tuhan di saat-saat paling sunyi dalam hidup manusia.
* **Simbolisme:** "Pagi hari" dan "taman yang sunyi" melambangkan kondisi jiwa seseorang yang mencari Tuhan sebelum dunia menjadi bising dengan kesibukan. Ini adalah gambaran tentang doa pribadi (*saat teduh*) di mana seseorang merasa seolah-olah "bertemu dengan Sang Guru" secara personal.
* **Refleksi Kebangkitan:** Liriknya membawa pendengar ke dalam suasana emosional Maria Magdalena saat ia mengira Yesus adalah penjaga taman. Ketika Yesus memanggil namanya, kegelapan (kesedihan/keputusasaan) berubah menjadi terang (pengharapan).

### 3. Mengapa Lagu Ini Begitu Menyentuh?
Lagu ini sangat dicintai karena beberapa alasan artistik dan spiritual:

1. **Melodi yang Kontemplatif:** Komposisi musik oleh Jo Kalmijn-Spierenburg cenderung tenang, lambat, dan introspektif. Musik ini mendukung suasana hening yang ingin disampaikan oleh liriknya.
2. **Keintiman:** Liriknya tidak bersifat khotbah yang megah, melainkan bersifat "bisikan" atau dialog pribadi antara individu dan Penciptanya.
3. **Konteks Indonesia:** Lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan masuk ke dalam berbagai buku nyanyian gerejawi (seperti *Kidung Jemaat* atau buku nyanyian lainnya). Di Indonesia, lagu ini sering dinyanyikan dalam kebaktian pagi atau saat teduh, yang membuat maknanya sangat relevan dengan kebiasaan beribadah di pagi hari.

### 4. Relevansi Historis
Di Belanda, lagu ini lahir pada periode pasca-Perang Dunia II, di mana banyak orang membutuhkan penghiburan dan ketenangan batin setelah masa-masa yang penuh kekacauan dan penderitaan. Lagu ini menjadi sarana bagi umat Kristen untuk menemukan kembali "taman yang sunyi" di tengah dunia yang baru saja pulih dari trauma perang.

### Kesimpulan
Kisah di balik *Waktu Hari Masih G'lap* adalah kisah tentang **"pertemuan"**. Ia bukan tentang kehebatan manusia, melainkan tentang momen sederhana di mana seseorang melepaskan beban hidupnya, datang dengan kerendahan hati di pagi hari, dan merasakan kehadiran Tuhan yang bangkit—seolah-olah Tuhan datang secara pribadi untuk memanggil nama kita, persis seperti Dia memanggil Maria Magdalena di taman itu.

Lagu ini tetap abadi karena ia menawarkan "tempat pelarian" spiritual bagi siapa saja yang merasa lelah dan mencari ketenangan di tengah dunia yang bising.