Informasi Lagu
71
Nomor
Kode
NKB 71
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Tradisional Amerika
Pencipta Syair
Frederick Whitfield
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI
Cross Ref.
KK, 424, PKJ 76
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Sebuah nama yang permai, sedaplah ‘ku dengar; ‘ku rindu menyanyikannya, membuat bergemar. ‘Ku mengasihiNya, Yesus Penebusku, ‘ku mengasihiNya, membalas kasihNya!
Terungkap dalam namaNya hal kasih Penebus, dihapus dosa manusia dengan darah kudus.
Terungkap kasih dan berkat yang dib’ri Bapaku, meskipun jalanku berat, tetaplah langkahku.
Terungkaplah hal kasihiNya di dalam namaNya, melipur hati yang resah, tiada bandingannya.
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — NKB 71 1
Slide 2 — NKB 71 2
Slide 3 — NKB 71 3
Slide 4 — NKB 71 4
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 71
Sejarah Lagu
Lagu **"Ku Sangat Suka Mendengar Namanya"** (judul asli: *There Is a Name I Love to Hear*) adalah salah satu himne Kristen paling ikonik di dunia. Kisah di balik lagu ini sangat menyentuh karena lahir dari kesederhanaan hidup dan dedikasi seorang pria yang bukan musisi profesional, melainkan seorang pengkhotbah awam.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:

### 1. Sosok Frederick Whitfield
Frederick Whitfield (1829–1904) adalah seorang pria asal Inggris. Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai pengkhotbah yang sangat mencintai Alkitab dan memiliki kerinduan mendalam untuk membagikan kasih Tuhan kepada orang lain. Ia bukanlah seorang komposer atau penyair terkenal di zamannya, melainkan seorang yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani di gereja-gereja kecil dan komunitas.

### 2. Momen Inspirasi (Tahun 1855)
Kisah ini bermula pada tahun 1855. Saat itu, Whitfield sedang duduk dalam ketenangan dan merenungkan tentang kedekatan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Baginya, nama "Yesus" bukan sekadar sebuah kata, melainkan sebuah realitas yang membawa damai, kekuatan, dan pengharapan di tengah kesulitan hidup.

Ia kemudian menuliskan bait demi bait lirik lagu ini bukan dengan tujuan untuk menerbitkannya secara komersial, melainkan sebagai **ekspresi doa pribadi**. Liriknya menggambarkan kerinduan akan keindahan nama Yesus yang baginya terdengar seperti "musik bagi telinganya" dan "penawar bagi hatinya".

### 3. Struktur Lirik: Fokus pada Nama Yesus
Jika Anda membaca liriknya, Anda akan melihat pengulangan yang menekankan kekuatan dari "nama" tersebut:
* **Bait 1:** Menjelaskan bahwa nama Yesus adalah nama yang paling ia cintai, yang memberikan kedamaian.
* **Bait 2:** Menggambarkan Yesus sebagai sahabat yang setia yang selalu ada di setiap masa sulit.
* **Bait 3:** Mengingatkan pada pengorbanan di kayu salib.
* **Bait 4:** Mengungkapkan antisipasi akan pertemuan di surga nanti.

### 4. Pertemuan dengan Komposisi Musik (William G. Fischer)
Lirik yang ditulis Whitfield awalnya tidak memiliki melodi yang tetap. Lagu ini baru meledak dan dikenal luas setelah bertemu dengan **William G. Fischer** pada tahun 1869, 14 tahun setelah lirik tersebut ditulis.

William G. Fischer adalah seorang guru musik dan pemimpin pujian di Philadelphia. Suatu hari, Fischer sedang membaca lirik yang ditulis oleh Whitfield. Sambil membaca, hatinya tersentuh oleh kesederhanaan dan kedalaman maknanya. Tanpa disengaja, saat ia duduk di depan organ, melodi yang kita kenal sekarang mengalir begitu saja dari jemarinya. Ia kemudian menggabungkan melodi tersebut dengan lirik Whitfield.

### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Bertahan?
Lagu ini menjadi sangat dicintai di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, karena beberapa alasan:
* **Kejujuran:** Lagu ini tidak menggunakan bahasa yang rumit atau teologis yang berat. Ia berbicara tentang perasaan manusiawi—kebutuhan akan seseorang yang mengerti beban hidup.
* **Universalitas:** Siapa pun yang sedang merasa kesepian atau putus asa akan merasa terhibur dengan lirik "Ia hiburkan hatiku".
* **Kesederhanaan Melodi:** Nada yang diciptakan oleh Fischer sangat mudah diingat, dinyanyikan, dan dihayati oleh siapa saja, dari kalangan jemaat yang paling sederhana hingga paduan suara profesional.

### Kesimpulan
Lagu "Ku Sangat Suka Mendengar Namanya" adalah pengingat bahwa karya seni yang paling menyentuh sering kali tidak lahir dari ambisi untuk terkenal, melainkan dari **kedekatan pribadi seseorang dengan Tuhan**. Frederick Whitfield memberikan liriknya, dan William G. Fischer memberikan jiwanya melalui melodi, sehingga menghasilkan warisan rohani yang telah menguatkan jutaan orang selama lebih dari 160 tahun.

Di Indonesia, lagu ini sering dinyanyikan dengan judul **"Nama Yesus Termanis"** atau **"Ku Sangat Suka Mendengar Namanya"** dalam Buku Nyanyian Kidung Jemaat atau buku lagu rohani lainnya.