Informasi Lagu
3
Nomor
do=c
Nada Dasar
Kode
KK 3
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do=c
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
76
Jumlah Bait
3 bait
Pencipta Lagu
Wilhelm Baumgartner (1820)
Pencipta Syair
Johann Mentzer (1704)
Penerjemah
Epafroditus Laurentius Pohan Shn (E.L. Pohan) (1970)
Cross Ref.
KJ 295, BE 15
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Andai ku punya banyak lidah dan punya suara yang besar, akan ku gubah madah indah dan kumenyanyi bergemar, Memuji kasih Allahku, memuji kasih Allah ku yang dicurahkan padaku, yang dicurahkan padaku.
Janganlah diam hai jiwaku, dan kau ragaku bangunlah! Nyatakanlah kegemaranmu atas berkat, anugerah, karna selama hidupku, karna selama hidupku akan kupuji Allahku, akan kupuji Allahku.
Hai rimba raya, hai belukar, desaukan kegiranganmu. Hai margasatwa sekalian, marilah padu suaramu: Dengan gitaku yang gemar, dengan gitaku yang gemar Memuji Yang Maha besar, memuji Yang Maha besar.
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KK 3 1
Slide 2 — KK 3 2
Slide 3 — KK 3 3
Partitur / Not
Partitur Chord KK 3
Sejarah Lagu
Lagu "Andai 'Ku Punya Banyak Lidah" atau dalam judul aslinya dalam bahasa Jerman, "O Dass Ich Tausend Zungen Hätte," adalah sebuah himne klasik yang kaya akan sejarah dan makna spiritual. Kisah di baliknya melibatkan dua tokoh utama dan sebuah pengalaman pribadi yang mendalam.

Mari kita telusuri detailnya:

---

**1. Sang Penulis Lirik: Johann Mentzer (1658-1734)**

Johann Mentzer adalah seorang pendeta Lutheran Jerman yang hidup pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Era ini adalah masa penting dalam sejarah Kekristenan di Jerman, ditandai dengan kebangkitan gerakan Pietisme, yang menekankan pengalaman pribadi, kesalehan, dan hidup yang berpusat pada Kristus, dibandingkan dengan formalisme gerejawi.

* **Latar Belakang Inspirasi:**
Mentzer sendiri adalah seorang yang sangat merasakan kedalaman iman secara pribadi. Kisah paling umum di balik penulisan lirik ini adalah bahwa Mentzer baru saja pulih dari penyakit parah yang mengancam jiwanya (beberapa sumber menyebutkan wabah cacar air atau penyakit serupa). Dalam momen-momen penderitaan dan ketidakpastian itu, ia berserah penuh kepada Tuhan. Ketika ia akhirnya sembuh dan merasakan kembali karunia kehidupan, ia diliputi oleh rasa syukur yang luar biasa dan tak terhingga.

* **Puncak Emosi dan Kelahiran Lirik:**
Rasa syukur dan pengagungannya kepada Tuhan begitu meluap-luap sehingga ia merasa bahwa satu lidah saja tidak cukup untuk menyatakan segala pujian dan kemuliaan Tuhan atas belas kasihan-Nya yang tak terbatas. Ia mendambakan memiliki "seribu lidah" atau bahkan lebih, agar ia dapat memuji dan memberitakan kasih Allah kepada setiap orang, di mana saja. Dari ledakan emosi dan kerinduan spiritual inilah lahir baris pembuka yang ikonik:
"O dass ich tausend Zungen hätte,
Und einen tausendfachen Mund,
So stimmt ich damit Lieder nette,
Von meinem Gott aus Herzensgrund!"
(Oh, andai ku punya seribu lidah,
Dan seribu mulut,
Maka dengan itu ku akan nyanyikan lagu-lagu indah,
Dari hatiku yang terdalam tentang Tuhanku!)

* **Tahun Penulisan:**
Lirik ini ditulis oleh Mentzer pada tahun **1704**. Ini adalah ekspresi yang kuat dari semangat Pietisme yang menginspirasi banyak orang untuk tidak hanya percaya secara intelektual tetapi juga merasakan iman secara emosional dan pribadi.

---

**2. Sang Komposer: Wilhelm Baumgartner (1820-1867)**

Meskipun Johann Mentzer adalah penulis lirik aslinya, himne ini memiliki banyak setelan musik sepanjang sejarahnya. Salah satu komposer yang menyusun melodi untuk lirik Mentzer adalah Wilhelm Baumgartner.

* **Siapakah Wilhelm Baumgartner?**
Wilhelm Baumgartner adalah seorang komposer, pianis, dan konduktor Swiss yang hidup di abad ke-19. Ia dikenal atas karya-karya musiknya, termasuk lagu-lagu, paduan suara, dan musik sekuler. Namun, seperti banyak komposer pada masanya, ia juga tertarik pada teks-teks spiritual yang kuat dan sering mengadaptasinya ke dalam bentuk musik.

* **Kontribusi Baumgartner:**
Wilhelm Baumgartner mengkomposisikan setelan musik untuk lirik "O dass ich tausend Zungen hätte" sebagai bagian dari karya-karyanya. Meskipun mungkin bukan melodi yang paling terkenal atau paling banyak digunakan secara universal untuk lirik ini (ada melodi lain yang juga populer, seperti yang dikaitkan dengan Johann Gottfried Schicht atau melodi tradisional Jerman), kontribusinya menunjukkan bagaimana teks Mentzer yang mendalam ini terus menginspirasi para musisi dari generasi ke generasi untuk memberikan interpretasi musikal mereka sendiri. Baumgartner membawa sensibilitas musiknya sendiri dari abad ke-19 untuk menghidupkan kembali dan memperkaya pesan lirik Mentzer.

---

**3. Warisan dan Dampak Lagu**

* **Penyebaran dan Terjemahan:**
Lirik Mentzer, dengan atau tanpa melodi spesifik Baumgartner (atau dengan melodi lainnya), dengan cepat menyebar dan menjadi sangat populer di kalangan umat Kristen di Jerman dan sekitarnya. Pesan tentang rasa syukur yang meluap-luap dan kerinduan untuk memuliakan Tuhan di segala penjuru adalah universal. Himne ini kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Inggris ("O For a Thousand Tongues to Sing," sering dikaitkan dengan John Wesley) dan tentu saja, bahasa Indonesia, "Andai 'Ku Punya Banyak Lidah."

* **Makna yang Abadi:**
Lagu ini terus dinyanyikan di gereja-gereja di seluruh dunia karena:
* **Ungkapan Syukur:** Ini adalah lagu yang sempurna untuk mengungkapkan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas kasih, penebusan, dan berkat-berkat-Nya.
* **Kerinduan Berbagi Iman:** Liriknya mencerminkan kerinduan yang tulus untuk tidak hanya merasakan iman secara pribadi tetapi juga untuk memberitakannya kepada dunia, memproklamasikan kebesaran Tuhan.
* **Pengingat Kasih Allah:** Lagu ini mengingatkan umat percaya akan karya penyelamatan Kristus dan belas kasihan Allah yang tak terhingga, yang layak untuk dipuji tanpa henti.

* **Gabungan Lirik dan Melodi:**
Kisah di balik lagu "Andai 'Ku Punya Banyak Lidah" adalah perpaduan antara pengalaman pribadi seorang hamba Tuhan yang hampir kehilangan nyawanya namun kemudian diliputi oleh rasa syukur yang tak terhingga (Mentzer), dan keahlian musikal seorang komposer yang mampu menangkap emosi tersebut dan mengubahnya menjadi melodi yang menggerakkan jiwa (Baumgartner, di antara komposer lain). Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah karya yang terus memberkati dan menginspirasi umat percaya hingga hari ini.
1
Mari, Puji Dia
KK
2
Allah Hadir Bagi Kita
KK
4
Angkatlah Hatimu Pada Tuhan
KK
5
Bagimu, Tuhan, Nyanyianku
KK
6
Bergemarlah Dan Bersukaria
KK
7
Berhimpun Semua
KK
8
Beribu Lidah Patutlah
KK
9
Bersoraklah Dan Puji Tuhan
KK
10
Bersoraklah, Hai Alam Semesta
KK
11
Bersyukurlah Pada Tuhan
KK
12
Bukalah Gapura Indah
KK
13
Bumi Dan Langit, Pujilah
KK
14
Bernyanyilah, Biduan Muda-Mudi
KK
15
Dengan Gembira
KK
16
Hai Makhluk Semua
KK
17
Gloria
KK
18
Suci, Suci, Suci
KK
19
Hai Mari Sembah
KK
20
Hai, Masyhurkanlah
KK
21
Haleluya! Alangkah Baik
KK
22
Haleluya, Haleluya
KK
23
Haleluya Pujilah
KK
24
Hanyalah Engkau, Tuhan
KK
25
Hari Minggu Hari Kudus
KK
26
Hari Minggu, Hari Yang Mulia
KK
27
Inilah Hari Minggu
KK
28
Hari Minggu Hari Tuhan
KK
29
Jemaat Allah, Marilah
KK
30
Jiwaku Memuji Tuhan
KK
31
Kami Puji Dengan Riang
KK
32
'Kau Yang Layak
KK
33
Kepadamu,Tuhanku
KK
34
Kita Masuk Rumahnya
KK
35
'Ku Gembira 'Kau Berkata
KK
36
Mari, Bernyanyi Sertaku
KK
37
Mari Kita Puji
KK
38
Mari Menyembah
KK
39
Mari Sembah
KK
40
Marilah Bernyanyi
KK
41
Marilah Kita Siapkan Hati Kita
KK
42
Mulia, Mulia Namanya
KK
43
Nyanyikanlah Mazmur Bagi Tuhan
KK
44
Nyanyikanlah Nyanyian Baru
KK
45
O Hari Istirahat
KK
46
Patut Segenap Yang Ada
KK
47
Puji, Hai Jiwaku, Puji Tuhan
KK
48
Puji Tuhan, Pujilah Namanya
KK
49
Puji Yesus
KK
50
Pujilah Allah, Pujilah
KK
51
Pujilah Tuhan
KK
52
Pujilah Tuhan, Sang Raja
KK
53
Salam Dan Hormat KepadaMu
KK
54
Pujilah Tuhanmu
KK
55
Muliakan Tuhan Allah
KK
56
Suci, Suci, Suci
KK
57
Sungguhlah Indah Rumahmu
KK
58
Terpujilah Allah
KK
59
Tuhan Allah Hadir
KK
60
Tuhan Allah, Namamu
KK
61
Tuhanku Yesus
KK
62
Ya Khalik Semesta
KK
Kembali ke KK